Twenymarch’s Blog

stupid_girl #8

Posted by: twenymarch on: July 2, 2009

Seberapa jauh kita mampu untuk tenggelam dalam dilemma kasih.

Selanjutnya, apa pula yang dapat diraih dari segala kebodohan yang terlanjur terbuat percuma.

Menenangkan hati hanyalah siluet kenyamanan yang segera berlalu secepat dia bisa.

Sang sahabatpun terus berupaya untuk berucap tiap tatapnya.

Menggarisbawahi sebuah huruf yang berbentuk hina padaku.

Memaksa menelan hitamnya kebenaran yang abadi dari sudut telinganya.

Aku mungkin dapat merubah bahkan memperbaiki segala yang terlewatkan, bisa saja hanya dengan sekali dekapan kata. Membuatnya kembali terpana dengan kelihaian berucapku yang ku dapat dari seorang tua. Ternyata, diapun dengan segala penipuannya itu dapat lebih lagi dariku. Namun, tak didapatnya dari seorang tua yang kupunya, dia mendapat dari seorang tua dari sejarah tuanya sendiri. Entah, apa yang dapat kukatakan dari kekalahanku kembali pada sang tua itu. Mungkin saja dia dapat mengutukku untuk menjadi seorang tua sepertinya. Tak tega dengan segala permasalahan tua yang menderaku karena kebohongannya. Diapun dapat dengan kemenangannya terus menerus menerkapku dalam bui di tenggorokannya. Berusaha untuk berucap mungki akan terus kulakukan. Namun, tak sadarkah kau bahwa seluruh kalimatku yang terlanjur terucap penuh dengan ketidakpastian diriku sendiri yang terselubung dengan tanya yang pasti.

stupid_girl #7

Posted by: twenymarch on: July 2, 2009

Dapat kukatakan bahwa cinta itu itu adalah kebodohan untuk terus bersabar dalam kesakitan.
Kebodohan untuk terus percaya dalam kebohongan yang jelas dalam dirinya.
Atau kebodohan dalam memungsikan segala indera diluar ambang batas kepercayaannya.

Cinta itu juga dapat kutuliskan dalam kata usaha untuk menyakiti diri sendiri.
Usaha untuk terus menutup diri dari segala isu duniawi yang menyapa.
Mungkin juga dapat dikatakan sebagai usaha untuk terus membodohi diri dalam dekapannya.

Mereka tak tahu jelas dan sempurna apa yang telah dan akan kulakukan deminya. Mungkin saja kamar mandiku yang kecillah yang mengetahui segala permasalahan cinta yang tak kulihat benar. Dapat kukatakan, hanya kamar kecil itulah yang dengan sempurna dapat menilaiku, usaha yang tak kukenal. Bahkan sampai aku cacatpun aku akan terus berada disekelilingnya, menghilangkan segala tanya yang asik mengusik dengan bangga dihadapanku. Telepon dari seorang teman mungkin juga ada benarnya, mengejakan kata-kata yang malah menentang segerombolan huruf yang diejanya. “jangan pernah percaya penuh dengan kata-kata lelaki”, mungkin itulah kurang dan lebihnya. Apa yang dapat kupetik dari sebongkah kepalsuan itu? Selain tawa yang menyeruak diruang kecil itu dan bisa saja disertai dengan pemikiran kotor yang lainnya. Akupun selanjutnya mengetahui bahwa aku tak ada lagi untuk itu semua.